Mahasiswa Jerman Mengenal Sam Poo Kong di Semarang
Pada Jumat, 23 Oktober 2026, Cara, Melanie, dan Frederick, tiga mahasiswa pertukaran dari Albstadt-Sigmaringen University di Jerman, menghabiskan satu hari di Sam Poo Kong bersama International Office Agung Putra University. Kompleks kelenteng tersebut merupakan sebuah tengaran di Semarang.
Tempat yang berkaitan dengan Zheng He
Sam Poo Kong, yang juga disebut Klenteng Gedung Batu, merupakan kompleks kelenteng yang didedikasikan bagi Laksamana Zheng He. Menurut kisah sejarah setempat di situs itu, penjelajah Tiongkok tersebut mencapai Jawa dalam pelayarannya pada awal 1400-an dan mendarat di kawasan ini, sedangkan sebuah gua di sana kemudian dikaitkan dengan awak kapalnya. Kelenteng berkembang dari kisah tersebut dan hingga kini didatangi umat serta pengunjung.
Arsitektur dan kesan pribadi
Frederick menggambarkan betapa berbedanya tempat ini dibandingkan dengan apa pun di negara asalnya. Bangunan merah terang, hiasan emas, dan atap melengkung mengelilingi rombongan, dan ia beberapa kali berhenti untuk mengambil foto. Cara lebih memperhatikan detail-detail kecil, mulai dari ukiran pada pilar hingga aroma dupa yang melayang melintasi halaman.
Bagi Melanie, mendengar kisah tersebut langsung di tempatnya mengubah cara ia memandang Semarang. Ia pernah membaca sedikit tentang Zheng He sebelum tiba di Indonesia, tetapi tidak menyangka akan menemukan kisahnya di tengah sebuah kota.
"Saya tahu Indonesia memiliki banyak budaya, tetapi saya tidak tahu bahwa sejarah Tiongkok begitu terasa di sini. Melihatnya secara langsung membuatnya terasa nyata, bukan sekadar sesuatu dari buku pelajaran," kata Melanie.
Tempat ibadah yang tetap hidup
Para mahasiswa juga mengetahui bahwa Sam Poo Kong bukan sekadar tempat wisata. Orang datang untuk berdoa, menyalakan dupa, dan memohon berkah. Para mahasiswa berbicara dengan suara pelan di dekat altar serta mengikuti arahan pemandu tentang tempat yang boleh dilalui dan lokasi yang tepat untuk mengambil foto.
Saat meninggalkan tempat itu, rombongan telah memperoleh sudut pandang lain mengenai Semarang. Beberapa jam di Sam Poo Kong memberi mereka gambaran langsung tentang warisan Tionghoa-Indonesia di tengah latar budaya kota yang lebih luas.
Galeri Kegiatan




