Menjelajahi Desa Lerep: Tempat Tradisi Bertemu Inovasi dan Kehidupan Sehari-hari
SEMARANG— Mahasiswa pertukaran internasional dari Albstadt-Sigmaringen University, Jerman, mengikuti berbagai kegiatan di Desa Wisata Lerep pada 26 September 2026. Mereka didampingi oleh student buddy, dosen, serta staf dari International Office Agung Putra University (APU).
Desa Wisata Lerep yang berada di Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, merupakan desa wisata yang memadukan keindahan alam, kekayaan budaya, dan beragam produk lokal. Berada di kaki Gunung Ungaran dengan ketinggian sekitar 497 meter di atas permukaan laut, desa ini menawarkan suasana yang tenang dan sejuk dengan pemandangan perbukitan yang indah.
Mahasiswa Albstadt-Sigmaringen University, yaitu Cara, Melanie, dan Frederick, tiba di Lerep pada pagi hari. Perangkat desa dan masyarakat setempat menyambut mereka dengan hangat. Setelah sesi perkenalan singkat, berbagai kegiatan pun dimulai.
Sambutan Hangat melalui Tarian dan Kuliner Tradisional
Kegiatan pertama setelah tiba di Lerep adalah menari menggunakan caping, yaitu topi tradisional yang biasa digunakan petani saat bekerja di sawah. Tarian tersebut bernama “Caping Gangsing”.
Gerakan dalam tarian ini menggambarkan aktivitas para petani saat bekerja di sawah, menunggu waktu makan siang, dan bersosialisasi dengan sesama petani.
Menurut instruktur kegiatan, Mr. Dayat, meskipun peserta tidak terlibat langsung dalam proses menanam hingga memanen padi, tarian ini setidaknya membantu mereka mengenal aktivitas yang dilakukan oleh para petani.
Setelah menampilkan tarian “Caping Gangsing”, para peserta menikmati makanan dan minuman selamat datang berupa teh telang, klepon, dan lemper.
“Saya suka rasa minumannya yang menyegarkan, meskipun sedikit terasa asam,” ujar Frederick sambil menunjuk teh telang.
Teh telang dibuat dari bunga telang kering yang diseduh menggunakan air panas. Teh telang memiliki rasa yang ringan dan tidak manis. Untuk menambah rasa, biasanya madu atau beberapa tetes jeruk nipis maupun lemon ditambahkan ke dalamnya.
Di Desa Lerep, teh telang disajikan dengan perasan jeruk nipis dan biji selasih. Kombinasi tersebut memberikan rasa yang segar dan sedikit asam sekaligus menjadi bagian dari pengalaman menikmati minuman lokal di desa tersebut.
Memberdayakan Perempuan melalui Sumber Daya Lokal
Setelah beristirahat sejenak sambil menikmati pemandangan hijau Desa Lerep, para peserta melanjutkan kegiatan dengan membuat sabun susu sapi.
Pada masa lalu, sekitar tahun 2008 dan sebelumnya, produksi susu sapi di Desa Lerep sangat melimpah. Namun, masyarakat saat itu belum memiliki sarana untuk mengolah susu sapi yang tersedia menjadi produk siap pakai yang tidak mudah rusak.
Kemudian, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia memberikan pendampingan dan pelatihan kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) di Desa Lerep mengenai cara mengolah susu sapi menjadi sabun.
“Tujuan dari program ini adalah untuk memberdayakan perempuan di Desa Lerep,” ujar Ibu Sulistyowati, ketua Kelompok Wanita Tani.
Susu dicampur dengan bahan lain, seperti minyak zaitun atau minyak serai. Bahan-bahan tersebut berfungsi sebagai pewangi sekaligus memiliki fungsi antiseptik dan membantu mengatasi kulit yang gatal.
Natrium hidroksida (NaOH) juga ditambahkan sebagai bahan aktif untuk mengubah lemak, minyak, dan susu menjadi bentuk padat. Bahan aktif lainnya kemudian ditambahkan untuk membantu mencerahkan kulit.
Setelah semua bahan tercampur dengan baik, adonan dituangkan ke dalam cetakan. Proses dari pencetakan hingga sabun siap digunakan membutuhkan waktu sekitar enam bulan. Pada akhir kegiatan, para peserta mendapatkan satu batang sabun sebagai suvenir.
Mengolah Limbah Hewan Menjadi Produk Baru
Kegiatan berikutnya adalah membuat briket dari kotoran hewan. Sebelum memulai kegiatan, peserta diajak oleh pemerintah Desa Lerep untuk melihat peternakan kambing dan domba yang dikelola oleh masyarakat setempat.
Melihat banyaknya kotoran hewan yang tersedia di Desa Lerep, pemerintah desa mengembangkan produk selain pupuk untuk mengelola limbah tersebut.
Masyarakat kemudian memproduksi briket KoHe (kotoran hewan) sebagai bahan bakar alternatif untuk menggantikan arang kayu.
Proses pembuatannya dimulai dengan mengumpulkan kotoran hewan. Kotoran tersebut kemudian dijemur di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering untuk mengurangi kadar air dan bau yang kuat.
Setelah kering, kotoran hewan dipanggang. Dalam proses ini terjadi karbonisasi ketika kotoran dipanaskan hingga kering dan memiliki tekstur seperti arang. Proses ini juga bertujuan mengurangi kadar amonia sehingga bahan tersebut aman digunakan sebagai bahan bakar.
“Kotoran hewan ini harus terus dipanggang sampai kering sambil terus diaduk agar panasnya merata. Prosesnya membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga jam,” ujar Sulis.
Setelah itu, kotoran yang sudah dipanggang digiling hingga menjadi bubuk halus seperti abu. Bubuk tersebut kemudian dicampur dengan bahan pengikat, yaitu tepung maizena dan air panas, hingga menghasilkan tekstur yang kental.
Campuran tepung tapioka kemudian ditambahkan secara bertahap ke dalam bubuk kotoran hewan. Adonan diremas hingga mencapai tekstur yang diinginkan, kemudian dimasukkan ke dalam cetakan dan dikeringkan hingga siap digunakan.
Belajar dari Sawah hingga ke Meja Makan
Pada kegiatan berikutnya, para peserta mendapat pengalaman membajak sawah menggunakan kerbau dan menanam padi secara langsung di area persawahan.
Kegiatan ini menjadi pembelajaran sederhana mengenai bagaimana makanan yang kita konsumsi setiap hari melewati proses panjang sebelum sampai ke meja makan.
Melalui kegiatan tersebut, para mahasiswa juga belajar untuk menghargai pekerjaan petani. Mereka memahami bahwa menghasilkan beras membutuhkan ketekunan, kerja keras, dan proses yang tidak singkat.
“Anda tidak bisa menanam padi sambil berjalan ke depan. Anda justru harus berjalan mundur karena jika berjalan ke depan, tanaman padi bisa terinjak dan rusak,” ujar Ibu Sulis.
Meskipun berjalan mundur, sebenarnya mereka sedang bergerak maju karena para petani nantinya akan mendapatkan hasil panen. Padi tersebut dapat dikonsumsi atau dijual untuk memenuhi kebutuhan lainnya.
Hal yang sama juga dapat diterapkan dalam kehidupan. Terkadang, kita perlu mengambil langkah mundur atau mengalah demi mencapai tujuan yang lebih besar dan memberikan manfaat bagi banyak orang.
GALERI KEGIATAN
Ditulis oleh: ANM, APU International Office
Agung Putra University