Pengabdian Masyarakat

Perjalanan Budaya ke Goa Kreo: Mahasiswa Pertukaran asal Jerman Mengenal Warisan Lokal

· September 21, 2026 · 3 min read

SEMARANG — Sebagai bagian dari pengalaman internasional mereka di Indonesia, mahasiswa pertukaran dari Albstadt-Sigmaringen University, Jerman, mengunjungi Goa Kreo di Semarang pada 18 September 2026. Kunjungan budaya ini difasilitasi oleh Kantor Internasional Agung Putra University (APU) sebagai bagian dari program pengabdian kepada masyarakat dan eksplorasi budaya.

Terletak di kawasan Kandri, Gunungpati, Semarang, Goa Kreo dikenal tidak hanya karena bentang alam dan populasi monyet ekor panjangnya, tetapi juga tradisi lokal serta legenda yang berkaitan dengan Sunan Kalijaga.

Mengenal Kisah di Balik Goa Kreo

Selama kunjungan, para mahasiswa pertukaran diperkenalkan pada kisah budaya Goa Kreo dan kaitannya dengan Sunan Kalijaga. Menurut legenda setempat, Sunan Kalijaga datang ke kawasan tersebut ketika mencari kayu jati untuk pembangunan Masjid Agung Demak. Kisah itu juga menceritakan perjumpaannya dengan monyet-monyet di kawasan tersebut. Perjumpaan tersebut kemudian menjadi bagian dari identitas budaya Goa Kreo. Nama “Kreo” kerap dikaitkan dengan kata bahasa Jawa mangreho yang berarti merawat atau menjaga.

Mahasiswa pertukaran berinteraksi dengan monyet ekor panjang di Goa Kreo

Eksplorasi budaya tersebut memperkenalkan kepada para mahasiswa bagaimana sejarah lokal, tradisi lisan, dan lingkungan alam dapat berpadu membentuk identitas suatu tempat. Goa Kreo berada di kawasan Waduk Jatibarang dan menjadi habitat sejumlah monyet ekor panjang yang merupakan salah satu ciri khas destinasi ini.

“Eksotis, ada banyak tanaman yang tumbuh di sini,” kata Frederick.

Belajar melalui Tradisi Lokal

Bagian lain dari pengenalan budaya tersebut adalah tradisi Sesaji Rewanda, sebuah tradisi tahunan masyarakat yang berkaitan dengan Goa Kreo. Tradisi ini mencakup pemberian makanan kepada monyet dan berhubungan dengan ungkapan rasa syukur serta warisan budaya setempat. Kegiatan tersebut disertai arak-arakan yang menampilkan hasil pertanian dan berbagai unsur ekspresi budaya lokal.

Tradisi tersebut juga mencerminkan hubungan antara masyarakat setempat, lingkungan alam, dan warisan budaya Goa Kreo. Melalui pengenalan Sesaji Rewanda, para mahasiswa pertukaran dapat mempelajari bagaimana sebuah tradisi dipertahankan dan diwariskan sebagai bagian dari identitas masyarakat.

Mahasiswa pertukaran belajar tentang sejarah dan budaya Goa Kreo

Salah satu momen yang berkesan dalam kunjungan tersebut adalah interaksi antara para mahasiswa dan monyet ekor panjang yang hidup di kawasan Goa Kreo. Para mahasiswa pertukaran diberi sekotak pisang untuk memberi makan monyet sambil mempelajari praktik perawatan satwa di destinasi tersebut.

“Mirip dengan apa yang saya lihat di Uluwatu, Bali,” kata Mellany dengan antusias.

Informasi resmi pariwisata Goa Kreo menyebutkan bahwa pengunjung dapat berinteraksi dengan monyet di bawah arahan yang tepat. Kawasan yang lebih luas ini juga diakui oleh otoritas pariwisata Semarang karena memadukan daya tarik alam, budaya, dan pendidikan.

Para mahasiswa juga diperkenalkan pada peran otoritas pariwisata setempat dalam mendukung perawatan satwa. Pengalaman tersebut memberikan gambaran lebih dekat mengenai bagaimana pariwisata, kesadaran lingkungan, dan tradisi budaya lokal dapat bertemu dalam sebuah destinasi berbasis masyarakat.

Galeri Kegiatan

Goa Kreo Semarang

Mahasiswa pertukaran dari Albstadt-Sigmaringen University saat menjelajahi budaya di Goa Kreo.

Pemandangan Waduk Jatibarang di kawasan Goa Kreo Semarang

Pemandangan Waduk Jatibarang dari kawasan Goa Kreo.

Ditulis oleh: ANM, Kantor Internasional APU

Agung Putra University